Bersama FOKAN, Arman Depari Kampanyekan Narkoba Musuh Bersama

PRESIDIUM Nasional Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (Presnas FOKAN) kembali mengkampanyekan gerakan anti narkoba melalu acara SIGAP BERSINAR (Bersih Narkoba). Acara bertema “Spirit Gapai Pelajar Bersih Narkoba – Raih Prestasi Harumkan Negeri Bersama Melawan Narkoba” yang menghadirkan Ketua Umum Presnas FOKAN Jefri T. Tambayong, STh dan Dewan Penasehat Irjen Pol. Drs. Arman Depari sebagai pembicara ini digelar di Gedung BPMJ Polda Metro Jaya, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (12/12/18)

Hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya Irjen Pol (Purn) Drs. Putra Astaman, Sekjen FOKAN Ruliadi, salah satu Pendiri Presnas FOKAN Sismanu Sutrisno, Perwakilan Polda Metro Jaya mewakili Kapolda, Perwakilan Kementerian Pertahanan, Perwakilan Gubernur dari Dinas Pendidikan Provinsi, para kepala sekolah se DKI Jakarta, para Guru BP dan Ketua OSIS dan ratusan pelajar ibukota. Hadir juga Kasubdit I Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvin Simanjuntak, kalangan ormas dan LSM.

Pada kegiatan tersebut Ketua Umum Presnas FOKAN, Jefri Tambayong juga secara resmi mengumumkan terbentuknya Koperasi Bersinar, yakni satu kegiatan untuk P4GN yang menunjang program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang dikomandoi oleh Kismono. Presnas FOKAN sendiri merupakan organisasi yang lebih kurang lima tahun – tepatnya 14 Mei 2013 – dibentuk dan dilantik kepengurusannya oleh Kepala BNN saat itu Komjen Pol. Drs. Anang Iskandar, dan kini untuk pengurusan tiga tahun ke depan dipercayakan kepada Jefri Tambayong untuk memimpin sebagai Ketua Umum.

Acara semakin semarak dan menarik saat para polcil (polisi cilik) dari Polresta Kota Bekasi menampilkan aksi dan kebolehannya dalam mengkampanyekan anti narkoba di atas panggung. Berlanjut dengan pemberian piagam kepada para peserta dan pernyataan sikap Presnas FOKAN atas marak beredarnya narkoba yang belakangan ini semakin mengkhawatirkan.

Dalam sambutannya Ketua Umum Presnas FOKAN, Jefri Tambayong menyoroti peredaran narkoba di Kota Yogjakarta yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Karena didapati, paling banyak pemakai narkoba adalah dari kalangan pelajar. Sementara di Jakarta sendiri, hampir 1 juta pengguna narkoba yang ada di atas data.

Ia berharap acara ini jadi satu momentum bukan hanya suatu acara seremonial belaka. Tetapi pergerakan, mulai dari tingkat sekolah, agar para pelajar berupaya fight against drugs. “Saya mengajak Spirit Gapai Pelajar Bersih Narkoba bukan hanya seremoial, tetapi ada pergerakan. Karena itu kami punya motto “tiada hari tanpa penyuluhan sampai Indonesia bersinar,” kata Jefri yang juga Ketua Umum Bakornas IPWL GMDM (Garda Mencegah Dan Mengobati).

Di tempat yang sama, Dewan Penasehat Irjen Pol. Drs. Arman Depari mengungkapkan, selama di bagian narkotik ia melihat dan tahu perkembangan narkoba saat ini seperti apa. “Dulu saya di Polda Metro ini, tiap hari di Boncos ada yang meninggal karena jarum suntik. Kampung Bali, Kampung Makassar, Komplek Permata (Kampung Ambon-red.) tiap hari ada yang meninggal. Bahkan di penjara yang sudah masuk sel juga begitu. Saya rasakan ini karena saya sudah 16 tahun di narkotik. Tapi sejauh ini, seolah- olah itu baru hanya ditangani aparat Polri, BNN dan TNI, yang lain cuek saja. Padahal ini sudah darurat,” papar Arman Depari.

Tak hanya itu, Deputi Pemberantasan BNN RI ini juga menyoroti banyaknya isu di Indonesia. Mulai dari hoax, korupsi, terorisme yang begitu menakutkan buat rakyat dan narkoba yang setiap harinya ada. “Korupsi, hoax dan terorisme. Tapi kenapa narkoba ini seolah-olah ‘ah sudah biasa ini’. Kenapa sih disebut darurat? Masalah kriminal, yang kecil kecilan di jalan atau rumah, kalau sudah anggota keluarga yang menggunakan narkoba, saya yakin keluarga itu tidak akan pernah tenang dan damai. Anak-anaknya sudah mulai berbohong, mencuri, kalau di rumah barang orang tua, bayar sekolah tidak, malah tidak sekolah,” kata Arman.

Lebih dari itu, kata Arman, di luar mereka akan mencuri, memeras, merampok, memperdaya teman, atau jika orang tuanya yang memakai narkoba, paling dekat terjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). “Suami akan melakukan tindakan kekerasan pada istri dan anak-anak, sebaliknya begitu, dan paling dekat lagi itu perceraian,” ungkap Arman Depari.

Kemudian masalah kesehatan, kata Arman, hal ini jelas tidak menguntungkan, karena yang pertama kali diserang oleh narkoba itu adalah syaraf pusat (otak-red.), karena akan terhalusinasi, terlalu euphoria dan macam macam. “Kalau sudah penyakitan, apalagi yang pakai jarum suntik, HIV/AIDS, hepatitis pasti cepat atau lambat akan terjangkit. Nah kalau sudah ada kerusakan mental, apa yang mau kita harapkan?” kata Irjen Arman Depari dengan nada tanya.

Lebih lanjut Arman merinci tingkat kematian narkoba di Indonesia berdasarkan hasil survey  BNN dan Puslitkes UI, dimana secara kumulatif sekitar 30 – 37 orang, bukan perhari mati akibat langsung minum. Karena itu saat ini situasinya disebut “darurat”. Hal ini mengacu kesepakatan internasional bahwa jika lebih dari 2% jumlah penduduk atau yang disebut prevalensi, hal ini sudah termasuk ke dalam situasi berbahaya atau darurat.

“Nah, kita sudah 2,2%. Maka itu memang sudah berbahaya. Hanya kita tidak terlalu peduli dengan itu. Masalah ekonomi, jika harga emas per gram sekitar 550. Jika sabu itu harga 2 juta/gram, 1 gram sabu itu bisa dapat 4 gram emas, bagaimana tidak tergerus belanja masyarakat kita. Jika ekstasi satu butir 200 -300 ribu, Polda Metro menangkap 1,3 ton dan BNN 1,3 ton, itu nilainya berapa? 1 ton sudah 2 triliun. Tahun ini secara hitungan kumulatif kita sudah menangkap 5 ton, dan itu sudah 10 triliun,” kata Arman Depari.

 

Narkoba Gerus Belanja Masyarakat

Yang jadi masalah lagi, kata Arman, belanja narkoba itu sudah menggerus dan menurunkan belanja masyarakat. “Yang tadinya mau beli telur, susu habis ke narkoba. Berapa biaya yang ditimbulkan dan ditanggung negara dari narkoba ini? Kira-kira 82 triliun perhari. Itulah biaya yang harus kita tanggung dan uang itu semua keluar diganti racun, itulah yang dipakai anak-anak kita,” ujarnya.

Karenanya, ia mengingatkan kenapa saat ini kita perlu waspada. Terutama FOKAN membuat acara seperti ini. Karena sasarannya anak muda dan itu memang logis dan relevan. Bayangkan, dari 260 juta penduduk Indonesia 40% anak mudanya potensial menggunakan narkoba. “Saya tidak bilang semuanya menggunakan, tapi itu memang sasarannya. Karena sindikat itu tidak peduli siapa yang mati. Mau mati masuk nyebur laut masa bodo, yang penting “barang saya”. Saya kasih kamu beli, duitnya saya bawa pergi,” kata Arman.

Situasi darurat ini, kata Arman, jika tidak segera ditanggulangi dan dinormalisasi, ke depan apa yang bisa diharapkan dari generasi muda. “Yang sekarang pelajar, Ketua OSIS, bagaimana mereka mau bersaing kalau bicaranya saja gagap, sambil ngobrol kepalanya goyang-goyang, air liurnya netes. Apa itu yang diharapkan jadi pemimpin kelak? Jangan-jangan pada saatnya pilkada, begitu mau dicalonkan sudah tidak ada orang, karena semuanya menggunakan narkoba. Pemimpin kita mau diekspor impor dari luar negeri silahkan. Importirnya itu dari negara-negara yang sekarang mengimpor narkoba, bayangkan… Oleh karena itu, semua pasti sudah mengerti apa bahaya narkoba. Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan, apa kita mau seperti itu? kata Arman bertanya.

Lebih jauh ia mengingatkan bahwa saat ini kita juga bisa ikut langsung melakukan pencegahan narkoba, karena itu yang paling penting. Jika masih ada yang menggunakan atau demandnya masih tinggi, maka para sindikat akan dengan senang hati mensuplay. “Berapa kamu minta pasti dikasih… Karena itu kampanyekan bahwa narkoba itu adalah musuh bersama, informasi yang ada teruskan, jangan malu kalau ada saudara, keponakan yang terkna narkoba. Itu bukan dosa, bukan tabu itu. Kita sembuhkan, tolong dan selamatkan. Mereka bukan musuh kita, karena siapapun potensi jadi pengguna narkoba, baik pegawai negeri, TNI, Polri, jaksa, guru, bupati bahkan anggota DPR semua bisa. Karena itu, semua informasi yang Anda miliki jangan ditelan dan baca sendiri, terutama anak sekolah dan guru. Jadi harus bermanfaat bagi orang lain, memberdayakan masyarakat,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut Arman juga memberikan arahan langkah apa yang pertama dilakukan jika dihadapkan dengan narkoba. Yang pertama hindari jika sudah tahu ada narkoba di tempat-tempat tertentu, yang indah dan musiknya bagus, lampunya kelap kelip namun di situ sudah ada narkoba. “Kalau memang sudah bertemu ada yang menawarkan, jangan takut untuk menolak, kalau perlu lawan. Ada slogan “lawan”… Itu yang kita perlukan untuk membentengi individu kita sendiri, keluarga dan lingkungan. Saya percaya jika individunya bagus, maka keluarganya juga akan bagus. Kalau keluarganya bagus, RTnya juga pasti akan baik dan kotanya baik. Nah, kalau kotanya juga baik, saya percaya negara ini akan menjadi baik,” harapnya mengakhiri. ED – JAKARTA

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*