Kabid Humas Polda Metro Jaya: “Masyarakat Harus Cerdas dalam Menggunakan Media Sosial”

MARAKNYA berita bohong yang trend dengan istilah “hoax” beberapa tahun terakhir ini semakin merajalela, terutama di media/jejaring sosial (medsos/jarsos). Keberadaan hoax, seakan tak terbendung lagi, lantaran para pengguna internet masih banyak yang kurang cerdas dalam mengkonsumsi setiap informasi yang beredar.

Adanya akses internet yang begitu mudah, dan semakin menjamurnya media sosial seperti Facebook dan Tweeter, menjadikan hoax begitu mudah dibuat dan disebarkan tanpa ada hukuman yang tegas kepada para pembuat dan penyebar hoax.

Lebih memprihatinkan lagi melihat minat baca masyarakat Indonesia yang rendah. Hal ini semakin menjadikan hoax begitu mudah dipercaya oleh para pengguna internet (netizen-red.). Kondisi demikian tentu sangat memprihatikan. Bagi netizen, kata hoax tentu bukanlah hal asing. Tetapi bagi masyarakat awam yang gaptek alias gagap teknologi, bisa dibilang pemahaman tentang hal itu “nol” atau bahkan sama sekali tidak mengerti.

Hoax, terjadi ketika sistem, tata-kerja, tata-aturan dan tata kelola pemberitaan (atau pelaporan-red.) di sebuah masyarakat mengalami distorsi, yang terutama berakibat pada hilangnya keterpercayaan masyarakat terhadap saluran saluran pemberitaan resmi dan utama (mainstream-red.). Sementara, teknologi informasi adalah rekayasa yang semula ditujukan untuk menghasilkan informasi dengan memegang prinsip-prinsip kejernihan saluran komunikasi, terutama dengan meminimalisir campur tangan manusia dalam proses perekaman fakta menjadi data.

Namun dalam perkembangannya, rekayasa yang sama juga dapat digunakan justru untuk memanipulasi data dan menjadikannya bahan pemberitaan kebohongan. Sistem informasi (information system) di sebuah masyarakat mengandung infrastruktur teknologi informasi dan petugas-petugas pelaksananya. Keberlangsungan sistem ini sangat dipengaruhi tata-nilai dan budaya, khususnya yang berkaitan dengan perekaman, penyebaran dan penggunaan data.

Hoax dapat terjadi jika aspek penyebaran informasi ini dimanipulasi untuk kepentingan pengecohan dalam pemberitaan. Artinya, sistem informasi dapat menjadi pemberi asupan (feeder) bagi “bahan baku” hoax.

Terkait maraknya hoax, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono mengungkapkan, apa dan bagaimana pandangannya tentang hoax yang marak beredar saat ini. Berikut petikan wawancara mantan Kabid Humas Polda Jatim ini dengan kompol.info di ruang kerjanya baru-baru ini.

Bagaimana Anda melihat fenomena munculnya hoax, khususnya di jarsos?

Hoax itu dibuat oleh orang dimana orang tersebut tahu kalau berita yang disebarkan itu tidak benar. Jadi dia memang sengaja membuat agar orang lain itu percaya akan yang dia lakukan, dan ada tujuan membuat berita hoax itu. Yang pertama bisa untuk penipuan. Kedua, untuk pemerasan dan ketiga adalah bisa untuk pengancaman. Kemudian, selain tujuan itu motifnya juga ada lagi. Ada yang untuk kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok. Kemudian keuntungan pribadi untuk kepentingan politik juga bisa, bahkan SARA, dan motifnya banyak. Tentunya semua ini ‘kan bisa kita kategorikan sebagai suatu tindak pidana, jika unsurnya terpenuhi. Makanya masyarakat harus hati-hati dan cerdas dalam menggunakan media sosial.

Bagaimana Polda Metro menangani kasus-kasus seperti ini dan sudah berapa yang masuk tahap proses hukum?

Untuk tahun 2016 ini Polda Metro menangani 1300 kasus, dan yang sudah selesai hanya 350-an. Selebihnya sekarang masih berjalan…

Potensi konflik terjadi di jarsos, seperti disintegrasi dan lain sebagainya, bagaimana antisipasi pihak kepolisian terkait hal ini?  

Sebenarnya untuk kegiatan ini bukan polisi saja. Masyarakat juga wajib untuk menangkal, dan instansi lain juga menangkal. Jadi semua jangan dibebankan ke polisi saja, ‘kan begitu. Semuanya boleh. Makanya harus menggunakan internet yang sehat, dan kita jangan terpengaruh. Di situ masyarakat harus cerdas melihat itu dan masyarakat juga harus berkampanye, ikut serta bagaimana agar kegiatan hoax itu tidak terlalu banyak bermunculan di situ.

Bagaimana sosialisasi mengkampanyekan tolak hoax yang dilakukan Polda Metro Jaya?

Kita juga menyampaikan, kegiatan-kegiatan preventif sudah ada kita lakukan.

Apa saja pengaruh berita hoax dalam kehidupan?

Dampaknya bermacam-macam. Sekarang peran orangtua bagaimana? Terutama peran dalam mendidik anaknya, bisa tidak? Artinya, ngarti tidak orangtua untuk menyampaikan ke anaknya, yang mungkin sekarang ini marak gadget (alat komunikasi-red.). Media sendiri pun juga harus menyampaikan itu di tulisan terkait dengan hoax. Karena yang mempunyai akses untuk masyarakat ‘kan media. Banyaknya media, di situ ada peran penting media. Kemudian juga di sekolah, ada. Peran pemerintah juga harus ada, semuanya melalui berbagai media yang ada

Bagaimana dengan munculnya media-media dadakan seperti website/online yang hanya dibuat untuk menyebarkan berita-berita palsu?

Munculnya media, baik cetak elektronika ‘kan bukan (urusan-red.) polisi. Kementriannya ada, mereka yang harus membuat regulasi di situ. Polisi tidak ada hak untuk menutup atau mendelet. Kita hanya patroli saja. Jadi, jangan semua beban ke polisi saja, banyak juga instansi lain .

Imbauan Anda untuk para pengguna jarsos yang kondisinya saat ini sudah semakin memprihatinkan?

Sebenarnya, inilah kemajuan teknologi. Yang pertama perlu regulasi. Kedua, ada pemahaman tentang kemajuan teknologi itu yang seperti apa. Tentunya semua pihak harus memahami kemajuan itu, dimana memang kemajuan teknologi itu dibutuhkan. Tetapi harus ada batas batas tersendiri. Tentunya kita harus bijak dan berinternet yang sehat. Intinya, kita tidak boleh melakukan suatu tindak pidana di media sosial. ***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*