Ketua Umum Bakornas GMDM, Jefri Tambayong: “HANI 2015, Momentum Gerakan Mengubah Bangsa”

IMG_20150623_205304

DALAM  rangka HANI (Hari Anti Narkotika Internasional) 2015, Bakornas GMDM (Gerakan Mencegah Daripada Mengobati) dengan komitmennya mengajak dan menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, instansi pemerintah dan stakeholder bangsa ini bahwa “Rakyat Bersatu Wujudkan Indonesia Bersinar”.

“Mengapa kita pakai tag line ‘bersatu?’, Karena bertahun-tahun narkoba bertambah parah. Maka tiada jalan lain bahwa masalah ini bukanlah tugas BNN, Mabes Polri, Bea Cukai, Kejaksaan dan Kehakiman saja, tetapi seluruh rakyat Indonesia,” demikian kata Ketua Umum Bakornas GMDM, Jefri T Tambayong S. Th. MA  kepada kompol.info dan Nusantara News di ruang kerjanya baru-baru ini.

Dalam momentum HANI 2015, Jefri mengingatkan semua pihak, agar bisa melupakan perbedaan. “Kita mau untuk menyuarakan suara ‘keNabian’. Apa itu suara ‘keNabian?’ Artinya kita mau bersatu, apapun agama mu, suku mu, kita rakyat Indonesia fight against drugs. Kita perang terhadap narkoba, bukan lagi say no to drugs, kita fight bergerak untuk ini,” kata Jefri.

Jefri mengatakan, momentum HANI bukan hanya perayaan seremonial di istana atau di manapun. Tetapi movement, suatu gerakan yang benar-benar mengubah bangsa. “Orang bilang, ‘gak mungkinlah bersinar’. Ya, kalau melihat itu gak mungkin. ‘Gak mungkinlah Indonesia bisa merdeka dari Belanda dan Jepang’. Tapi akhirnya, merdeka. Kenapa? Nothing is impossible, kalau ada unity (kesatuan-red.). Jadi ini yang saya lihat,” jelasnya.

Selaku Ketua GMDM dirinya berharap, semua pihak bisa saling bergandengan tangan. “Mari kita gandengan tangan, termasuk rekan-rekan wartawan. Jangan berita-berita penangkapan terus. Kalau bisa berita pengetahuan, knowledge tentang bahaya narkoba. Ya, berkorbanlah, sediakan satu kolom sosial yang sifatnya penyuluhan bahaya narkoba, karena kelak itu juga menjaga anak-anak, cucu dan teman-teman kita punya anak.  Narkoba ini harus kita lihat sebagai perang,” imbaunya.

Untuk itu, kata Jefri, jadikanlah momentum statemen Presiden Jokowi tentang ‘darurat narkoba’, sebagai waktunya untuk kita berperang, karena sudah darurat. Karena jika tidak, siap-siap melihat lost generation, generasi yang hancur. “Tapi kita akan lihat generasi yang bersinar kalau kita sama-sama bergerak, mulai dari tingkat RT, RW, Karang Taruna, semua bergerak sinergi kampanyekan ini. Namun jangan kampanyekan ini sebulan saja, tapi setiap hari,” ujarnya mengingatkan.

Lebih lanjut Jefri mengingatkan, dalam masalah narkoba jangan ada yang jadi ‘pahlawan kesiangan’ sendiri. Karena ini rakyat Indonesia punya tugas bersama dan harus dikerjakan bersama, yang pada akhirnya bangsa Indonesia bisa sejahtera. “Karena kalau rusak, semua kita rusak. Gak ada kalau yang rusak (karena narkoba-red.) cuma Islam atau Kristen, tetapi semua. Tapi kalau sejahtera, Islam, Kristen, Budha, Hindu dan Konghucu, semua Indonesia rakyatnya sejahtera. Tanpa ada rasa iri,” kata peraih penghargaan piagam MURI atas rekor penyelenggara penyuluhan anti narkoba dan HIV/AIDS dengan peserta terbanyak di tahun 2009 ini.

Jefri juga mengungkapkan bahwa tumbuh dan berkembangnya narkoba semua karena faktor ekonomi. Ironisnya lagi saat ini banyak wanita yang terjerumus. “Karena wanita jarang dicurigai, untuk itu makanya banyak di antaranya yang direkrut untuk itu (kurir-red.). Untuk itu saya mengimbau kepada generasi muda, Anda bisa berprestasi, tetapi jika sekali saja pakai narkoba, masa depan hancur, keluarga hancur, yang pada akhirnya akan menghancurkan bangsa ini juga,“ kata Jefri mengingatkan.

Oleh sebab itu, lanjutnya, generasi muda jangan pernah coba-coba dan kompromi terhadap narkoba. Tapi jangkaulah para korban penyalahguna narkoba, karena mereka bukanlah penjahat, tetapi korban yang harus direhabilitasi. Dukunglah program ini (rehabilitasi-red.). Di samping para generasi muda juga harus ikut mengawasi pemerintah untuk berani dan tegas terhadap para bandar narkoba, agar mereka tidak merajalela.

“Caranya bagaimana? Hukum ditegaskan dan bagaimana penyalahguna itu bisa direhabilitasi, atau supaya tidak ada yang beli. Karena kalau tidak ada yang beli, bisa jadi bandar itu akan beralih, bisa saja dagang dia baju. Karena sudah tidak ada yang beli, buat apa? Jadi seperti hukum dagang, kita bikin bangkrut para bandar. Lalu bagaimana cara agar anak muda bikin bangkrut bandar narboba? Salah satunya,  berikan pengetahuan bahaya narkoba, rangkul korban-korban, jangan dimusuhi, dan hukum seberat-beratnya para bandar narkoba,” papar .Dewan Penasehat Ikatan Komunitas Bikers Fight Against Drugs ini.

Tak hanya itu, kepada pemerintah dirinya juga mengusulkan agar mengembangkan fungsi siskamling. Di samping harus berani, pemerintah juga harus tegas. Salah satunya dengan memberikan gaji para penegak hukum seperti di KPK. “Untuk Polri, TNI dan BNN yang khusus menangani narkoba, beri mereka reward (penghargaan-red.) jika bisa membongkar jaringan narkoba, agar mereka tidak main mata lagi dengan para bandar. Sebab kalau tidak, tetap saja jadi sarang narkoba. Pasang badan itu oknum-oknum polisi, BNN, Lapas, kehakiman. Tapi kalau gaji sudah 25 atau 50 juta, mereka akan mikir,” kata Peraih piagam penghargaan Musium Rekor Dunia-Indonesia atas rekor tandatangan anti narkoba terbanyak (2.002.015 tandatangan-red.) bersama Kepala BNN DR. Drs. Anang Iskandar dan Direktur Peranserta Masyarakat BNN Brigjen. Pol. Drs. Siswandi di tahun 2013 ini mengakhiri. ED/JRS

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*