Melalui Seni, GMDM dan Kemensos Bangun Karakter Bangsa Tanpa Narkoba

20160526_095059

NARKOBA adalah musuh bersama. Untuk itu, semua pihak harus sepakat bahwa narkoba adalah masalah besar yang harus dipecahkan dengan pemikiran dan langkah yang besar. Semua komponen bangsa harus bergandeng tangan dalam kerukunan dan kerjasama, karena hanya ini yang bisa melawan narkoba.

Menindaklanjuti hal tersebut, Bakornas IPWL GMDM bekerjasama dengan Kemensos mengadakan kegiatan “Anti Drugs Music Festival 2016” Rehabilitasi Berbasis Masyararakat (RBM) di TMII, Jakarta, Kamis (26/05/16).  Selain Direktorat Napza Kemensos RI, kegiatan ini juga didukung Direktorat Pertamas BNN (Peran Serta Masyarakat Badan Narkotika Nasional) dan beberapa organisasi anti narkoba seperti FOKAN, BFAD dan JUR. Nampak hadir pada kegiatan tersebut, Ketua Umum GMDM Jefri Tambayong dan Direktur Penyalahgunaan Napza Kemensos, Drs. Waskito Budi Kusumo, M.Si didampingi Kasubdit SDM Napza Kemensos Prayitno.

Selain menghadirkan 30 group band anak jalanan seJabodetabek, dalam acara tersebut Ketua Umum GMDM Jefri Tambayong juga berkesempatan memberikan penghargaan kepada Kemensos dan piala untuk peserta Juara ke I, II, III dan Favorit serta Piala Bergilir “Anti Drugs Music Festival 2016” kepada para pemenang.

Di sela kegiatan tersebut, Direktur Penyalahgunaan Napza Kemensos, Drs. Waskito Budi Kusumo, M.Si Kementerian Sosial (Kemensos) kepada KOMPOL mengatakan, saat ini Kemensos tengah menyiapkan – dari aspek rehab – 160 IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor) seluruh Indonesia di 30 Provinsi. “Dan GMDN (Gerakan Mencegah Daripada Mengobati) saat ini merupakan salah satu IPWL mitra kami di lapangan yang menangani masalah rehabilitasi. Di samping itu, Kemensos juga melakukan deteksi dini dan sosialisasi terhadap masyarakat tentang perlunya kerjasama dan bergandeng tangan untuk mencegah dan memberantas narkoba,” ungkap Waskito.

Waskito mengatakan, kegiatan festival anti drugs ini merupakan salah satu langkah yang sangat strategis dari kaum muda bahwa mereka punya potensi. “Daripada mereka pakai hal yang merugikan dan negatif, alangkah baiknya kita jaring dengan festival ini. Maka minat, bakat akan terlihat. Di satu sisi dia bisa menghindarkan dari pergaulan bebas, dari masalah narkoba, di sisi lain kita juga membangun karakter bangsa ini lewat musik. Dengan pendekatan musik dan seni ini akan lebih indah. Contoh SLANK dan kegiatan lain yang ada di lapangan,” ungkapnya.

Menurutnya, hal ini sangat menarik. Jadi, suka tidak suka, mau tidak mau semua pihak harus bergandeng tangan menghadapi masalah ini, karena ini masalah negara dan bangsa. “Di dunia ada 245 juta. Di sini, seluruh Indonesia tidak ada yang namanya bebas narkoba. Maka darurat narkoba menjadi hal yang sangat penting dan sudah menjadi program nasional. Jadi sebenarnya narkoba ini masalah pelik. Persoalannya menyangkut masalah mafia, ekonomi, politik, keamanan serta adanya supply and demand,” kata Waskito.

Ia juga melihat, narkoba merupakan bisnis besar. Maka Indonesia dengan rakyatnya yang besar, negara yang kepulauannya begitu banyak, jadi satu peluang besar. “Alhamdulillah, kita beruntung hukuman mati diberlakukan. Walaupun di daratan Eropa menggugat kita dan menolak, mau tidak mau kita dengan BNN (Deputi Pemberantasan BNN, Arman Depari saat itu-red.) diskusi. Kita bertahan bahwa hukuman mati harus kita lakukan, karena menyangkut rakyat banyak dan masa depan bangsa. Sekarang itu yang diserang mulai dari anak-anak. Anak jalanan 70% diutak-atik, usia 3 tahun sudah ada yang ngelem. Bayangkan… Semua diserang, ini sebenarnya persoalan bangsa kita,” papar Waskito Budi Kusumo.

Lebih jauh dikatakan, secara politik internasional, negara Indonesia sangat kaya, sumber daya dan alamnya begitu banyak hingga membuat negara-negara luar saat ini sudah mulai masuk dan ingin menguasai. “Sumber makanan, berapa item yang impor. Nanti menghadapi putaran pasar bebas dunia, untuk itu maka SDM dilemahkan, salah satunya dengan narkotika. Ini yang harus diperhatikan dan jaga bersama. Kemudian faktor ekonomi juga sangat mendukung untuk terjerumus. Bahkan sekarang di daerah-daerah pedalaman banyak sekali, perkembangannya juga luar biasa, di tambang-tambang dan perkebunan. Jadi kalau SDM kita dilemahkan, nanti menghadapi pasar internasional tinggal jadi rebutan, orang asing bisa masuk dan kita jadi penonton di negeri sendiri,” ungkap Waskito mengingatkan.

Maka, menurut Waskito, dengan adanya kegiatan ini, salah satunya GMDM dengan festival musik seperti halnya kiprah SLANK, bisa memberikan dampak yang luar biasa kepada masyarakat Indonesia. “Inilah kegiatan positif yang harus kita tangani bersama. Daripada kita gunakan narkoba. Kita bisa asah bakat dan minat lewat seni, apapun bentuknya. Melalui aspek-aspek kemandirian bisa dilakukan di lapangan,” katanya.

Waskito mengibaratkan, menghadapi narkoba seperti menghadapi “Alien” (makhluk asing-red.). Tidak terlihat, tahu-tahu ada. Seperti angin, dia bisa masuk ke semua lini, mulai dari orang tak punya sampai tataran atas, inilah yang bahaya. Maka deteksi dini, kerjasama semua komponen bangsa dan kalangan sangat diperlukan. “Kemensos dengan 160 IPWL di seluruh Indonesia menjaring semua komponen. Ibu Menteri (Khofifah-red.) dengan adanya muslimat NU ada 32 juta. Kita lewat Gerakan Pencegahan Lingkar Sabuk penangkalannya, ini pengamanan. Keluarga harus kita amankan, deteksi dini, dan apabila sudah aman kita kuatkan. Lantas bagaimana jika sudah ada yang kena? Ada IPWL, antarlah yang kena untuk diobati dan direhab,” imbuhnya.

Meski demikian, umumnya para korban enggan melapor. Seringkali ada stigma, masalah takut dan ragu-ragu. Inilah regulasi-regulasi yang perlu dilakukan. Maka dengan adanya model seperti festival musik ini, orang mulai sadar dan bergerak. “Ini juga merupakan sosialisasi bahwa narkoba tidak selamanya jelek, tapi kalau pengedar, gembong dan segala mafianya memang harus dihukum mati, karena ini yang menjadi musuh kita. Sekarang yang sakit, seperti ibu-ibu yang tak tau anaknya dikasih permen, coklat narkoba, dia perlu direhab,” kata Waskito menegaskan.

Untuk itu, karena ini merupakan masalah besar, dirinya mengimbau, suka tidak suka, mau tidak mau semua pihak harus bergandeng tangan, sinergisitas dan kerjasama. “Contoh nenek moyang kita dalam menghadapi penjajah dulu, makanan kurang, senjata kurang, tapi dia punya keyakinan, kerukunan, kerjasama dan persaudaraan yang kuat, akhirnya menang. Inilah yang harus kita bangun di seluruh Indonesia bahwa ini masalah besar yang harus dihadapi seluruh Indonesia,” kata Waskito mengakhiri. ED/GUN/DODI – JAKARTA

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*