Netizen Buru Video Viral Provokatif Adi Sucipto

Sosok Iwan Adi Sucipto ini jadi perbincangan karena disebut sebagai pria dalam video viral yang menantang Kapolri. Videonya yang sebut ‘jangan takut ancaman Kapolri’ ini viral di media sosial.

Pernyataan Iwan Adi Sucipto itu dinilai terlalu provokatif. Tak hanya membawa-bawa nama Kapolri, pria dalam video itu menyebut juga Panglima TNI. Hal itulah yang menyebabkan ucapannya itu dikecam di dunia maya karena dianggap mengadudombakan Polri dan TNI.

Seiring viralnya video tersebut, netizen pun ‘memburu’ jejak digital Iwan Adi Sucipto. Berdasarkan obrolan netizen di Twitter, banyak di antara mereka yang mencari identitas Iwan. Nama akun yang diduga milik Iwan Adi Sucipto pun beredar. Satu di antaranya nama akun Facebook Adi Sucipto Pattiwael.

Saat ditelusuri, kini akun tersebut sudah tak bisa di akses. Namun, ada satu akun Facebook lain yang dibagikan netizen, yakni Ustadz Iwan Hadi S. Akun tersebut dicurigai milik Iwan karena potretnya mirip dengan pria dalam video viral.

Namun, pada akun ini nama pemiliknya adalah Iwan Hadi Sucipto. Waktu update status akun ini sudah lama. Postingan terakhirnya dibuat pada 28 Desember 2011.

Berdasarkan keterangan di profil akunnya, ia merupakan lulusan IAIN Sunan Gunung Djati. Kemudian, pemilik akun tercatat tinggal di Cirebon. Tercantum pula pekerjaan pemilik akun Ustadz Iwan Hadi S itu sebagai komisaris utama di PT KAFALA DARUSSALAM INDONESIA. Dicantumkan pula link http://www.bumidarussalamfoundation.wordpress.com. Saat link tersebut diakses, langsung terhubung pada laman blog Bumi Darussalam Foundation. Yayasan tersebut berada di Cirebon, Jawa Barat.

Setelah ditelusuri, nama Ustaz Iwan Hadi Sucipto, MM termasuk ke dalam jajaran pembina di Yayasan Bumi Darussalam Cirebon. Ada pula fotonya terpampang dalam penjelasan visi dan misi yayasan di Cirebon itu.

Pada album foto di Facebook-nya, Iwan kerap mengunggah foto-foto kegiatan di Pondok Pesantren Bumi Darussalam Cirebon. Ia bahkan menamakan album foto itu PonPes Bumi Darussalam Cirebon. Nama pondok pesantren itu, ternyata sama seperti lokasi ditangkapnya IAS, pria berusia 49 tahun. IAS dibekuk polisi di pondok pesantren tempatnya mengajar, yakni Pondok Pesantren Bumi Darussalam.
Seperti ramai diberitakan, IAS ditangkap di Blok Kolem, Kelurahan Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Minggu (12/5/2019) pukul 01.30 WIB.

Menurut Kapolres Cirebon AKBP Suhermanto, IAS tengah bersama keluarga, sekaligus kuasa hukumnya. Kini, IAS pun dijadikan tersangka kasus ujaran kebencian akibat video viral provokasi soal Polri dan TNI. “Dalam video itu sangat berbahaya karena mengandung unsur provokasi, mengadu adu domba antara TNI dan Polri. Ada juga berita bohongnya yang menyebutkan 22 Mei adalah hari ulang tahun PKI yang itu tidak benar,” ujar AKBP Suhermanto.

Selain itu, ia menyebut, video tersebut berkaitan dengan Pemilu, yakni pengumuman resmi KPU pada 22 Mei 2019. “Ini tentu ada kaitannya dengan pemilu karena dia mengajak masyarakat ramai-ramai datang ke Jakarta tanggal 22 Mei,” ujarnya.

Akibat kasus ini, IAS dijerat Pasal 45 A Ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 Undang-undang RI Nomor 19 tahun 2019 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.

Isi Video Provokatif IAS

Kasus ini berawal dari informasi yang didapat kepolisian mengani video yang berisi ujaran kebencian dan bernuansa provokatif. Video tersebut berdurasi 1 menit 57 detik dan diunggah di Facebook.
Kini, video tersebut sudah diunggah ulang oleh beberapa akun media sosial, salah satunya Relawan JOMIN.

Dalam video tersebut terlihat seorang pria mengenakan kemeja batik biru bermotif mega mendung. “Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh, rekan-rekan yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’la, ayo terus kita berjuang, jangan lemah semangat. Karena semakin hari semakin kuat,” katanya.

Namun, semakin lama ia berbicara emosi kemarahan terpampang di wajahnya. Matanya melotot ketika berbicara soal mengenai Kapolri yang memerintahkan menembak mati perusuh. Ia memprovokasi penonton videonya agar tidak tunduk. “Jangan takut dengan ancaman Kapolri dengan ditembak di tempat,” ucapnya.

Padahal berita polisi menembak mati perusuh adalah hoaks dan sudah diklarifikasi oleh pihak kepolisian. Berita hoaks tersebut berasal dari sebuah blog bukan media massa. Dalam ucapannya, pria itu membenturkan institusi TNI dan Polri. Pria yang diduga IAS itu mengaku keluarganya berasal dari kalangan TNI. “Dan aku yakin seluruh keluarga saya, TNI, siap tatkala ada korban, maka TNI akan tempur dengan Polri,” ucapnya lantang.

Tak hanya itu, pria itu juga menyerukan rakyat rela mati demi memperjuangkan paslon yang dibelanya. Di akhir video, pria itu mengatakan tanggal 22 Mei, hari di mana KPU menyatakan hasil Pemilu 2019 sebagai hari ulang tahun PKI.

Informasi tersebut, ucapnya, didapatkan dari teman-temannya yang menjabat sebagai jenderal.

“Mudah-mudahan kami semuanya teman-teman, jangan tidak percaya, tanggal 22 itu juga ada beberapa informasi ini dari teman-teman saya, jenderal , bahwa ternyata tanggal 22 hari ulang tahun PKI.

Ini merupakan sebuah… Ada surat dari seorang yang pemimpin PKI, dan insyaAllah kita semua semangat dan berjuang sebelum tanggal 22, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjadi Presiden dan Wakil Presiden.”

Ia meminta kepada rekan-rekannya agar berdoa dan menangis hingga diberikan keadilan.

“InsyaAllah satu persatu yang sombong, angkuh dan congkak dengan jabatannya, dengan kekayaannya, tumbang kena stroke, tumbang sakit parah, insyaAllah bismillah. Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutupnya. TB/EDITOR – JAKARTA

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*