Perang Terhadap Narkoba Masih Bergema

18839792_1366270146742255_5456487328226658917_oPerang terhadap narkoba memang tiada hentinya digemakan seluruh rakyat Indonesia, khususnya para penggiat anti narkoba. Berbagai modus operandi narkoba sudah dipelajari para penegak hukum. Begitupun langkah-langkah penanggulangan dan pencegahannya, sejak jauh hari sudah diantisipasi oleh pemerintah. Salah satunya dengan program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba).  

Peredaran narkoba, jika dilihat dari angka prevalensinya (penyalahgunaan narkoba-red.) memang menurun dari target. Dari yang semula 2,8, bisa ditekan menjadi 2,2%. Namun yang memprihatinkan sekarang ini, yang menjadi sasaran bukan hanya terbatas kepada remaja sampai orang dewasa, tetapi mulai menyasar kepada anak-anak TK dan usia lanjut.

IMG_20170527_170125“Boleh kita katakan, kenapa mereka bisa masuk? Karena pangsa pasar di kita cukup besar, 4,1 itu cukup besar, juga harga pasar di kita, pangsa pasar bisnisnya lumayan tinggi. Jadi tetap mereka (sindikat narkoba-red.) berbondong-bondong ke kita,” kata Analis Pemberdayaan Masyarakat BNN RI, Kombes Pol. Drs. Fauzan Djamal, M.Si kepada NEWS IN dan KOMPOL.INFO di sela kegiatan Training of Trainers (TOT) bertema “Perang Terhadap Narkoba (Fight Against Drugs)” yang diselenggarakan BAKORNAS GMDM (Gerakan Mencegah Daripada Mengobati) di Sekretariat GMDM, Jl. Malaka Merah Blok D, No. 22 Malaka Country Estate, Pondok Kopi, Jakarta Timur, baru-baru ini.

Hadir sebagai pembicara pada kegiatan tersebut di antaranya, Ketua Umum BAKORNAS IPWL GMDM Jefri Tambayong, Direktur Nafza Kemensos RI Drs. Waskito Budi Kusumo, Direktur Pemberantasan BNNP DKI Jakarta Kombes Pol Maria Sorlury, SH, MH dan Muhammad Hasan SH MH dari LKBH GMDM, dengan kesaksian dan testimoni antara lain dari mantan bandar narkoba 6 kali di penjara akibat narkoba Raditya Egy, mantan bandar narkoba di kalangan anak anak sekolah Sintong Pranoto Sihombing dan  Alfons Sufit Legoh PM Program Manager Rehabilitasi IPWL GMDM yang sempat 18 tahun terikat dan terbelenggu dalam kasus narkoba.

Pada kesempatan tersebut Kombes Pol. Drs. Fauzan Djamal, M.Si yang juga mantan Kepala BNN Provinsi Sulawesi Tenggara mengingatkan keberadaan jaringan narkoba yang selalu ada dan menjadi masalah saat ini. Salah satunya peredaran sabu yang sindikatnya berasal dari Tiongkok (China). “Saat ini sasarannya juga pada ibu-ibu (kurang mampu-red.). Karena itu sekarang kita dari pemberdayaan masyarakat saat ini, khususnya BNN di bidang Pemberdayaan Masyarakat, masuki ibu-ibu ini dengan memberikan keterampilan. Kita bekerjasama dengan BLK, salah satunya mengadakan lomba seperti sulaman, lukis dan lain-lain. Semua ibu-ibu kita adakan itu untuk pemberdayaan agar mereka ini ada kegiatan. Tapi kalau ibu-ibu ini tidak ada kegiatan, mudah disusupi. Artinya, Pertamas (peran serta masyaarakat) yang ada di BNN semua harus menguatkan, dayamas (pemberdayaan masyarakat) semua harus bergerak,” paparnya.

Di sisi lain, kata Fauzan, dengan pihak luar negeri, pemerintah juga menekan dan memperketat pengawasan. Di antaranya dengan melakukan kerjasama dengan pos pos interdiksi. Di Polri dengan Interpol, dan badan dunia dengan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime). “Jadi kita perketat, dan pada saat kita rapat UNODC itu kita bahas, ternyata di Indonesia ini, yang dari Tiongkok ini banyak ke kita, sehingga di sana juga dihambat. Jadi UNODC ini, kita kumpulan dari para Negara yang peduli terhadap bahaya narkoba,” jelas Kombes Fauzan.

 

Metode Rehabilitasi

IMG_20170527_144438Sementara di tempat yang sama, Direktur Nafza Kemensos RI, Drs. Waskito Budi Kusumo kepada NEWS IN dan KOMPOL.INFO mengungkapkan, saat ini di dunia terdapat 512 narkoba jenis baru, dan yang masuk ke Indonesia pertama sekitar 40-an, namun sekarang sudah di atas itu. “Untuk jenis obat ini ‘kan berkaitan dengan Badan POM dan Depkes, kami dari Kemensos menyikapi begini, ‘orang Indonesia jago-jago. Punya duit dia bisa beli sabu. Perkembangannya ini sangat luar biasa’. Kami mensikapinya, menginformasikan lewat rakor, lewat teman-teman IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor). Tapi yang terpenting, bagaimana kita melakukan suatu rehab. Setelah itu dia bisa mandiri, dan selanjutnya bagaimana bisa menjaga supaya tidak relaps (kambuh-red.),” ujarnya.

Adapun untuk rehab, lanjut Waskito, pihaknya sudah membangun beberapa titik dengan dibantu IPWL yang ada, terkait sarpras (sarana prasarana). Namun menurutnya, ada juga metode dalam pendekatan itu tak selamanya dengan sarpras. Salah satunya dengan pendampingan di lapangan dan menggunakan metode community development. “Artinya pengembangan masyarakat, bagaimana memberdayakan keluarga dan masyarakat bisa mengobati dan menjaga para pengguna narkoba. Kita antisipasi dengan sosialisasi dan deteksi. Karena tanpa penggerak di lapangan motornya tak jalan,” jelasnya. ED/FAIZ/ENDI – JAKARTA

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*