Petani Kopi Jabar Belajar Mengenal Cita Rasa Kopi

WhatsApp Image 2017-10-14 at 18.07.21 WhatsApp Image 2017-10-14 at 18.08.49 WhatsApp Image 2017-10-14 at 18.09.49

Bandung – Hari kedua, pelatihan kewirarausahaan kopi yang diikuti oleh pilihan petani kopi Jabar di Preanger Point Bandung, Sabtu, 14 Oktober 2017, antara lain mereka belajar mengenai pengenalan uji mutu dan cita rasa kopi serta pengembangan kelembagaan sumber pembiayaan dan pola perdagangan kopi.

Petani kopi yang mengikuti pelatihan kewirausahaan ini, sangat antusias saat mereka belajar mengenai pengenalan uji mutu dan cita rasa kopi. “Saya dapat ilmu baru tentang menilai cita rasa kopi, bagaimana menggiling kopi, menyeduhnya, hingga mencicip kopi,” kata Dedi Priyadi, 38 tahun, petani kopi, asal Sukajaya Lembang, saat mengikuti pelatihan di Preanger Point, Sabtu, 14 Oktober 2017.

Menurut Dedi, pelatihan yang baru pertama kali diikuti ini, sangat bermanfaat sekali karena dia jadi mengetahui bagaimana cara menanam kopi dengan baik, mengolah hasil panen dengan benar, dan menyeduh kopi. “Ya, tentang cita rasa kopi dan ilmu barista sedikitnya bisa saya kuasai, setelah saya ikut pelatihan ini,” ujar Dedi senang.

Adi Taroepratjeka, Q Graider kopi Indonesia mengatakan, belajar mengenal cita rasa kopi, bagus dilakukan secara kelompok, agar terjadi diskusi, dan tentunya harus ada pengajarnya untuk mengarahkan bagaimana memberi nilai pada kopi.

Menurut Adi, kopi berkualitas adalah kopi yang ditanam dengan baik, pengolahan pasca panen dengan baik, dan biji kopi yang disortir secara baik. “Kalau petani kita kan, kopi yang sudah disortir dijual, yang sudah patah-patah dan disapu, itu yang diminum, jadi bagaimana bisa mengetahui kopi yang memiliki cita rasa bagus, kalau yang diminum kopi yang cacat,” kata Direktur 5758 Coffee Lab, yang disambut gelak tawa para petani kopi.

Adi menyatakan, sudah saatnya petani kopi Indonesia dapat mengetahui cita rasa kopi dengan baik, agar mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapapun, meski bahasanya berbeda. Caranya, kami bagikan lembar pecatatan kopi, lalu mereka diajari bagaimana mencium aroma biji kopi, mencium aroma kopi yang sudah digiling, dan mencium aroma kopi yang sudah diseduh, serta bagaimana cara menyeduh kopi.

Saat mereka mencium aroma kopi, hingga mencicip kopi, cita rasa yang mereka rasakan ditulis di lembar pencatatan cita rasa. Melalui lembar pendaftaran kopi, kita menyamakan persepsi tentang nilai 7 untuk kopi seperti apa, nilai 7,5 seperti apa. “Sehingga mereka bisa berkomunikasi tentang kopi dengan hanya menggunakan lembar pencatatan kopi,” kata Adi.

Adi mengatakan, kalau ada kopi dicampur jagung, beras, kedelai, beras ketan hitam, itu awalnya terjadi karena petani hanya menjual hasil panen yang bagus. Sisanya, kopi cacat atau pecah digiling, supaya banyak, mereka campur jagung, beras, atau kedelai. “Dicampur nggak papa, da nggak ketahuan, tapi ketika petani tidak pernah minum kopi hasil sortiran yang bagus, mereka tidak akan pernah tahu cita rasa kopi enak,” kata Adi. Para petani pun tertawa mendengar cerita Adi.

Menurut Adi, tidak ada yang salah mencampur kopi dengan komoditas lain. “Di Lombok, mereka minum kopi dengan kayu manis, kelapa sangria untuk menambah cita rasa, tapi yang dipakainya adalah kopi terbaiknya. Jangan dibiasakan minum kopi cacat, tapi coba minum kopi yang bagus,” kata Adi.

Cara menyeduh kopi, dijelaskan Adi, jangan menyeduh dengan air mendidih, tapi gunakan air panas 85 – 95 derajat. “Setelah diseduh dengan air panas, biarkan 4 menit, lalu ambil ampasnya, cium lagi aromanya, pasti aromanya berubah, dibandingkan dengan aroma kopi yang baru diseduh, ” ujar dia.

Pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi ini digelar oleh Kementerian LHK bekerja sama dengan SCAI (Specialty Coffee Association of Indonesia). Pesertanya adalah 50 petani kopi yang tergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) di Jabar.

Ketua LMDH Lereoy Matita mengatakan, kita sangat berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Petani dapat wawasan baru tentang kewiraushaan kopi.

“Ini awal kerja sama yang baik untuk meneruskan tradisi pelatihan kewirausahaan kopi secara berkesinambungan. Petani kopi membutuhkan wawasan tentang cara menanam kopi yang baik, mengolah hasil panen, dan memprosesnya menjadi powder, sampai tata niaga kopi,” kata dia.

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hadi Daryanto menyatakan terima kasih kepada para petani kopi yang sudah sangat antusias mengikuti kegiatan kewirausahaan ini.

“Dengan mengikuti pelatihan ini, mereka sudah menjadi bagian dari petani agro forestry, tahu menanam kopi yang benar, mengolahnya, dan sekaligus mengetahui tata niaga kopi serta industri kopi, secara umum. Mereka bisa mengetahui kualitas kopi yang bagus dan mengenal cita rasa kopi dengan baik. Kegiatan ini tidak boleh selesai sampai disini, tapi harus dilakukan secara berkelanjutan,”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*