Stephen Tambayong: “Pemuda Terlibat Narkoba, Benahi Ekonomi Kreatif”

DALAM waktu dua bulan sejak pertengahan September s.d awal Oktober 2018, dari operasi Badan Narkotika Nasional (BNN RI) telah berhasil mengungkap sejumlah kasus narkotika di berbagai tempat, dengan barang bukti yang didapat di antaranya lebih kurang 14,5 kg shabu dan 63.500 butir ekstasi.

Dalam aksinya, banyak modus operandi dilakukan para pelaku. Contohnya dalam kasus penyelundupan narkotika baik shabu dan ekstasi dari Malaysia yang terjadi baru-baru ini. Umumnya, para pelaku memasukkan barang haram ini melalui jalur laut menuju aceh, Dumai dan Tarakan untuk kemudian dibawa ke Jakarta, Medan dan beberapa kota di Kalimantan untuk diedarkan. Sementara para kurir menyelundupkan narkotika dengan cara terpisah dari beberapa titik pemberangkatan dan tujuan yang berbeda-beda, yang biasa disebut dengan “shot gun”.

Maraknya narkoba dan longgarnya sistem keamanan hingga bisa dengan mudahnya narkotika masuk ke negeri ini, belakangan banyak mendapat sorotan. Salah satunya dari aktivis anti narkoba yang juga Ketua Penyuluh Bakornas GMDM (Garda Mencegah Daripada Mengobati), Stephen William Joseph Tambayong.

Stephen mengatakan, memang Malaysia sudah jadi tempat transit, dan masuknya narkoba memang dari jalur sana. Karena regulasinya di Malaysia memang diperbolehkan kalau hanya untuk lewat. Lain hal jika untuk digunakan di tempat atau diedarkan di Malaysia, hukumannya sangat berat. Pasalnya telah banyak TKI/TKW di Malaysia yang dikenakan hukuman mati.

“Tapi rupanya, Malaysia mengizinkan kalau peredaran itu hanya transit, dan menurut saya itu yang menarik negara-negara lain untuk transitnya ke Malaysia dulu, baru diedarkan ke Indonesia, karena dari Malaysia ke Indonesia itu ada jalur laut dan darat. Jadi, sangat kuat kenapa orang mau melalui Malaysia,” kata Stephen kepada kompol.info saat ditemui di Kantor DPP Bakornas GMDM, Selasa (16/10/18).

Sementara terkait sistem keamanan yang dinilai kurang ketat hingga narkoba bisa lolos ke Indonesia, menurut Stephen, ini terjadi bisa dari kurangnya personil. Seperti di beberapa negara, narkoba ada yang bisa masuk dan tidak tergantung satu keputusan aparatnya. “Maksudnya, kalau di Indonesia saya lihat bukan dari instansinya, tapi oknum yang bermain di sana, karena itu bukan uang-uang kecil. Misalnya mau edarkan narkoba 1 kg, satu hari bisa untuk berapa miliar, mana mau gak terima itu oknum. Karena dia pikir gajinya saja sampai pensiun tak sebesar itu,” kata pemuda enerjik yang sejak usia 16 tahun sudah aktif mengikuti berbagai kegiatan penyuluhan anti narkotika ini.    

Jadi, kata Stephen, yang harus benar-benar diperhatikan adalah tentang pribadi dari oknum aparat negara, karena mereka yang pegang kunci peredaran narkoba, termasuk ke Indonesia. Yakinkan kepada mereka bahwa narkoba ini bahaya. Bisa mengincar anak dan keluarga mereka juga. Terutama para aparat negara yang menjaga perbatasan negara, mereka harus memiliki pribadi dan mental yang siap menolak untuk narkoba dan peredaran uang yang masuk, karena hanya mereka yang bisa menjaga.

“Kalau jaga dari teroris atau negara lain mungkin mereka sudah siap perang, karena sudah terlatih. Tapi terlatih tidak nolak uang? Jadi mereka kuncinya, karena buktinya narkoba 85% masuknya dari laut, itu dalam data BNN. Nah, itu bukan main-main, karena kita ‘kan negara maritim, hampir 17 ribu pulau jumlahnya. Jadi jangan main main, dan kita harus kuatkan di angkatan laut dan polisi air, yang kerjanya harus benar-benar ada. Pastinya sinergi dengan BNN, dan pasti sudah ada kerjasama ini. Tapi sebaiknya lebih serius lagi,” paparnya.

Lalu dimana salahnya? Bukankah pola rekrutmen aparat, baik TNI/Polri sudah sangat ketat? Menurut Stephen, ini karena aparat telah berpikir logik, bahwa mereka tidak akan terima uang sebesar itu lagi dan jika diterima pun mereka akan masuk penjara. Jadi lebih kepada karakternya. Misalkan ditunjang dengan gaji yang cukup, dimana kebutuhan sekarang belum bisa menunjang mereka. “Mereka ‘kan juga ingin hidup yang enak. Kalau di Amerika dan negara negara besar lain yang narkobanya legal, gak pernah ada penangkapan yang aneh-aneh lagi, karena polisi juga sudah malas dan gak mau terlibat. Selain itu mereka sudah ditunjang kehidupan anak dan istrinya,” jelas Stephen.

Jadi, lanjut Stephen, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak bela negara. “Kalau di sini teriak bela negara tapi tidak dikasih penghidupan yang layak kepada aparatnya. Gajinya kecil tidak menunjang. Jadi perlu ada perhatian dulu kesejahteraan aparat. Kalau mereka sejahtera, otomatis mereka berani menolak,” jelas Stephen.

Lebih dari itu kata Stephen, usaha dari aparat sendiri sudah total, mulai dari kampanye, penyuluhan sampai penangkapan para pelaku. Namun tetap saja narkoba tidak terbendung masuk ke negeri ini. Di satu sisi, BNN sendiri sudah melakukan yang terbaik. Tapi ini semua karena masyarakatnya (belum sadar-red.). “Narkoba ini masalah pribadi. Orang mau menolak pakai atau tidak pakai narkoba itu bukan karena BNN. Tapi menurut keputusan diri sendiri. Mau dilarang bilang narkoba itu bahaya, tapi kalau dianya mau pakai, ya dia pakai saja,” ujarnya.

Untuk itu, kata Stephen, pentingnya memasukkan penyuluhan dan edukasi bahaya narkoba ini dari regulasinya, sejak SD, SMP sampai SMA, masukan ke dalam kurikulumnya, sehingga mereka mulai mempelajari ini sejak masa sekolah. “Jadi, pentingnya kita kasih tau dari SD, SMP, SMA masuk dalam kurikulum. Setidaknya, ketika mereka pakai itu, mereka tau apa resikonya. Jadi itu pentingnya edukasi sejak dini. Kalau kita gak kasih tau, siap-siap mereka ambil, karena mereka gak tau,” ungkap pria kelahiran Manado 23 November 1996 ini mengingatkan.

Selain itu faktor ekonomi, menurut Stephen, peran penting pemerintah dalam mensukseskan ekonomi kreatif sangat diharapkan. Contoh dengan memberikan modal kepada para pemuda, atau fasilitas agar mereka punya tempat dan wadah untuk berkembang dan mendapatkan uang melalui ekonomi kreatif. “Misalkan anggaran APBD DKI Jakarta, besarkan di ekonomi kreatifnya, sehingga anak-anak muda bisa dibuatkan fasilitasnya, seperti bengkel dari uang modalnya. Jadi, kalau hanya mau diingatkan tentang peredaran narkoba dan penyuluhan narkoba, mereka gak bakalan, karena mereka butuh makan. Dengan begitu mereka gak kepikiran lagi untuk jual narkoba. Jadi menurut saya itu yang perlu dibenahi,” kata putra dari Ketua Umum Fokan dan GMDM, Jefri Tambayong ini.

Kepada para pemuda terutama yang masih menggunakan narkoba, Stephen mengimbau, kalau masa depan mereka masih jauh dan pemuda merupakan penentu masa depan bangsa ke depan. “Pemimpin yang ada sekarang akan diganti oleh kalian. Maka, jangan sampai posisi ini diambil sama orang-orang jahat. Kalau kalian ingin negara kita baik, dimulai dari diri kita sendiri untuk tidak menggunakan narkoba, juga tidak menyuap. Jadi, budayakan kalau kita ini jangan sama kaya bapak-bapak (pejabat-red.) sebelumnya, melakukan korupsi dan lainnya. Ke depan, bagaimana kita mau bilang anti korupsi kalau kita pengguna narkoba,” tegasnya.

Sementara kepada pemerintah, ia mengusulkan dan berharap edukasi bahaya narkoba sejak dini bisa dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. “Jadinya mereka akan mengerti mulai dari SD, SMP sampai SMA. Ada jenjangnya, mulai tentang apa itu narkoba sampai peredarannya. Dengan begitu tim kami dari GMDM atau BNN ketika masuk ke sana mereka sudah ada dasarnya,” kata Stephen mengakhiri. ED – JAKARTA

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*