Tingginya Sedimentasi Di Sungai Tanggulan Dago Pojok Dansektor 22 Terjunkan Alat Berat

Kompol.info, Bandung – Alat berat diterjunkan untuk mengeruk sedimentasi di Sungai Tanggulan Dago Pojok. Pengerukan dilaksanakan hasil Kolaborasi Sektor 22 Sub 8 Citarum Harum, DPU Kota Bandung, Camat Coblong, Lurah Dago, Komunitas Cika – Cika Dan Rt. 4 Rt.7 Rw. 3 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong Kota bandung.

Pantauan wartawan, Rabu (29/1/2020) siang, 1 unit kendaraan alat berat mengeruk sedimentasi di aliran Sungai Tanggulan, Dago Pojok Rt 4 dan Rt 7 Rw.3 Kelurahan Dago Kec. Coblong Kota Bandung. Sedimen di sungai tersebut mencapai 1 meter sepanjang 500 Meter. Tanah yang dikeruk langsung diangkut truk.

Dansektor 22 Kolonel Inf. Asep Rahman Taupiq mengatakan pengerukan itu dilakukan Sektor 22 Satgas Citarum Harum bekerjasama dengan DPU Kota Bandung atas permintaan warga setempat.

“Pengerukan ini dilakukan hasil kerjasama Sektor 22 dan DPU Kota Bandung, karena sungai itu berdampak langsung kepada masyarakat,” katanya saat  meninjau langsung pengerukan Sungai Tanggulan yang didampingi Dansub 8 Pelda Ade Rapiudin.

Asep mengungkapkan pengerukan itu berlangsung hampir 1 Minggu hari ini hanya lanjutan sekitar 50 meter lagi. Alat yang diturunkan merupakan bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung.

“Kami sudah mengangkut sedimentasi di aliran Sungai Tanggulan Dago pojok. Diangkut menggunakan dump truk,” ucapnya.

Menurut dia, sebelum dilakukan pengerukan, tinggi sedimentasi di aliran Tanggulan Dago pojok yang berada di sektor 22 Sub 8 mencapai 1 meter. Sedangkan untuk jumlah keseluruhan panjang sedimentasi yang ada di titik tersebut mencapai 500 meter.

“Dari pantauan di lokasi, mengatakan kurang lebih 500 meter sedimentasinya. Dari dalam ke atas sekitar 1 meter,” tuturnya.

Asep menambahkan, “Pengerukan Sungai tanggulan memang penting untuk disegerakan guna mengantisipasi luapan air sungai saat hujan deras. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengerukan untuk mengembalikan kapasitas saluran seperti semula.”. Ucapnya.

Jangan sampai air sungai meluap ketika kapasitasnya tak mampu menampung tingginya curah hujan akibat pendangkalan, termasuk saluran lain yang terkoneksi dengan Sungai tanggulan.

Jika tidak dilakukan pengerukan, Dansektor 22 Khawatir, luapan tersebut menimbulkan dampak lain, seperti genangan atau banjir di lingkungan pemukiman masyarakat maupun tempat-tempat lainnya.

Dansektor berharap, dengan adanya pengerukan sendimentasi, air mengalir dengan lancar, dan jangan hanya sekali saja namun harus di rawat oleh masyarakat secara berkala, minimal 3 bulan sekali dilakukakan kerja bakti.

“Nanti pinggir – pingir sungainya kita tanam Rumput vetiver agar dapat mencegah erosi dan terjadinya pengendapan sedimentasi di aliran Sungai tanggulan”. Pungkasnya.

(Linda)***

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*